90% manusia di dunia pasti pernah yang namanya menangis,yah walaupun buat para lelaki menangis itu menyimbolkan seseorang yg cengeng dan identik dgn sifat kayak anak kecil,tapi menangis itu menyehatkan lho…Selain membuat perasaan kita menjadi lega juga bisa membantu kita memberikan solusi ketika kita sedang mengalami sebuah masalah yang mungkin hanya dengan menangis kita bisa merasa kalau masalah itu telah terselesaikan.Air mata itu sendiri sebenarnya terbagi menjadi 2 :
1. Air mata emosional, air mata yang keluar karena dorongan emosi atau perasaan dari hati.
2. Air mata iritasi, air mata yanga keluar karena adanya benda asing yg masuk ke dalam mata.
Kenapa menangis itu menyehatkan?bukan malah cengeng atau banyak di bilang kayak anak kecil…??? yah…coba kita bahas satu2 manfaatnya…
1. Menangis merupakan cara alami auntuk mengusir unsur2 yang merugikan dan berbahaya dari dalam tubuh,yang di keluarkan pada saat sesorang sedana mengalami kesedihan.
2. Menangis akan menambah jumlah detak jantung dan dapat di kategorikan sebagai latihan yang berguna bagi diafragma serta otot2 dada dan kedua pundak.Setelah menangis kecepatan detak jantung akan kembali normal,sehingga ia akan mengendur dan akhirnya muncul perasaan nyaman kembali.
3. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. WilliamA. Barry di Pusat Penelitihan Mata dan Air Mata, di Saint Paul Medical Centre, menyimpulkan bahwa menangis itu sangat bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan emosi kita. Penelitihan itu juga menegaskan bahwa merupakan kesalahan jika kita menahan keinginan untuk menangis, manakala kita memang sedang menghadapi persoalan yang menuntut kita untuk menangis. Menahan air mata justru akan menyeretmu menuju terjadinya krisis hati, kekacauan lambung, sakit kepala, dan nyeri persendian.Air mata sangat berperan dalam membersihkan mata kita dan juga berperan penting di dalam meringankan tekanan jiwa yang tersimpan, yang jika terus disimpan justru akan semakin memperparah berbagai jenis penyakit, seperti radang lambung, tekana darah tinggi, serta peradangan pada selaput usu besar.
Air mata itu berisi sekian banyak hormon yang dihasilkan pleh tubuh kita manakala kita sedang mengalami keteganggan jiwa. Oleh karena itu, ketika kita menangis, hormon-hormon keteganggan hilang dan akhirnya kita bisa merasa nyaman.
4. Para ilmuwan malakukan analisis mengenai air mata, dan ternyata mereka mendapatkan bahwa air mata itu mengandung 25 persen dari protein dan sebagian dari metal, khususnya magnesium yang sarat dengan sejumlah racun yang bisa dibuang oleh seseorang dengan cara menangis dan mengeluarkan air mata.
5. Menurut Dr. M. ‘Abdul Lathif Balthiyyah, seorang dokter spesialis mata, berpendapat bahwa air mata itu mempunyai banyak faedah. ia akan membantu elastisitas gerakan kelopak mata bagian atas dan bawah. ia akan menjaga mata sebagai sebuah media untuk membersihkannya secara terus-menerus, sehingga ia pun menjaga mata dari kekeringan.
Mungkin masih banyak lagi manfaat dari menangis yang bisa di sampaikan dari cara pandang lain2,buat ane menangis itu sangat penting…karena semua ini bermain dengan sebuah hati dan persaan jiwa…
~Kesenian adalah Keluhuran Hati ~
~Tuhanku...Aku ingin menghibur dari dhibur...Aku ingin mengasihi dari dkasihi...Mencintai dari dcintai...Kerna dengan memberi aku menerima...Dengan memaafkan aku dmaafkan...Dengan cinta aku bangkit kembali & Dengan cinta aku hidup abadi...Dan bermulalah bicara untaian kata antara hati dan perasaan...~Minggu, 26 Desember 2010
Sabtu, 27 November 2010
kejujuran
Sebuah cerita tentang nasihat bunda,penyejuk jiwa penuntun raga.
"Bawa jauh-jauh uang itu dari ku".Ucapnya dengan tubuh lemah.
"Tapi aku tak rela,aku resah,aku gundah jika terus-menerus melihat ibu dalam keadaan begini".
"co..Kamu dengar apa kata ibu tadi". ("Irama bicara ibu naik beberapa nada"),meski tubuhnya lemah dibalut sakit.
"Sungguh..Mati terhormat itu lebih baik daripada hidup terlaknat".
"Aku ingin ibu sembuh..Aku ingin ibu tak sakit-sakitan lagi. aku ingin melihat ibu seperti biasa lagi".
"tapi tidak perlu dengan uang hasil rampokan?".
"iyaa bu.Maafkan aku".aco mulai meruduk wajahnya."Tapi ini kulakukan karena keterpaksaan.
bu..Aku tak tega melihat ibu terus lemah terbaring ditempat tidur karena penyakit kambuhan...
Sedangkan Ayah..Dimana kini Ayah?..Dia selalu tak peduli pada keadaan kita..Dia seperti menganggap kita sudah tak ada".
Ibu memalingkan wajah.Merunduk,memandang sabah tikar usangnya.Huhhf..Mata ibu berkaca-kaca.Ketika menyebut-nyebut suaminya."coooo..Dimana suamiku? Dimana Dia? Sudah sebulan lebih dia tak pulang".Bisik hati ibu.
aco merangkai jarak dari ibu.Duduk lemas dilantai tanah rumah.Airmatanya perlahan mengalir,tetes demi tetes."Aku selalu rindu masa dahulu bu..Ketika kebahagian mengutuhkan keluarga kita.Bu..Jika anak-anak remaja lain mempunyai cita-cita yang sangat tinggi.Maka cukuplah cita-citaku adalah melihat ibu sembuh dan Ayah pulang kembali kerumah..Itu pun sudah sangat lebih dari cukup".
Hmmh..Sendu dari tangis,desah,dan gumam bersatu padu.aco,remaja yang putus sekolah karena alasan biaya,sungguh tak kuasa menahan sakit rasa.
" Jangan buat ibu sedih nak karena melihatmu sedih...Bangunlah sayang,berdirilah.Berilah contoh yg baik untuk adik-adikmu.Pergilah,antarkan kembali uang itu kepemiliknya".
"Tapi bu...".
"Tidak ada kata tapi..Karena ini menyangkut akhlaq dan ketaatan kita kepada Allah...Jadilah laki-laki yg bertanggung jawab".
Yaaa seperti itulah ibu.Perempuan taat yang selalu mengajarkan yang terbaik kepada anak-anaknya.
Namun hati aco masih berdesus penuh tanya dan keraguan."Aku malu harus berkata apa..Seperti apa caranya kukembalikan uang ini?".
2 Hari kemudian
rumah pemilik***
Diluar nampak seorang laki-laki remaja tengah berdiri tepat dipagar rumah.Sejak 5 menit tadi dia berada disana.pemilik rumah sembunyi dibalik kaca nako berbalut gordeng hitam,membukakan sedikit bagian gordeng untuk mengintip gerak gerik remaja tersebut.
Nyonya tua amat ketakutan,pikirnya jauh terbang,menyentuh ketakutan yang dahsyat menjulang."Siapa pemuda itu? Rasa-rasanya saya pernah melihat dia?" gumam nyonya.
Nyonya amat takut jika remaja diluar tersebut mempunyai niat jahat,seperti misalnya mencuri.Sebenarnya nyonya ingin sekali menelpon polisi,tetangga,suami atau anak-anaknya yang sedang bekerja,tapi Tiba-tiba seluruh badan nyonya menjadi sangat dingin dan sulit rasanya buat melangkah.Nyonya hanya bisa mematung,sambil berdo'a dan berharap semoga remaja itu tak mempunyai niat jahat. Rasa takutnya nian besar,mengalahkan rasa-rasa lainnya.Apalagi ketika remaja itu masuk melompati pagar depan rumah nyonya,dan kemudian berjalan mendekat.Hmmh rasanya penyakit jantung nyonya akan kambuh.
Namun tiba-tiba saja perasaan nyonya berubah menjadi heran.Rasa takutnya hilang seketika ketika remaja tersebut kembali pergi,setelah menyimpan sesuatu didepan pintu."Yaah,sekarang saya baru ingat remaja tadi adalah remaja yang 2 hari lalu menabraknya.Tapi apa yang dia lakukan disini,dan apa yang tadi dia simpan?".Hati nyonya tak henti berbisik.
*************
"Assalamu'alaikum...Nyonya yang baik..Maafkan saya karena telah banyak merugikan nyonya..Maafkan saya juga yang telah mencuri dompet nyonya..Tapi hari ini saya datang untuk mengembalikannya.Meski sebenarnya saya tak punya keberanian melakukan ini.
Maafkan saya Nyonya.Saya terpaksa mencuri,karena keadaan yang menyeret saya melakukannya.
Sudah 2 bulan ini ibu saya sakit-sakitan.Terdapat kebocoran diginjalnya,dan kini beliau hanya terbaring lemah ditempat tidurnya.Ayah saya pun kini entah dimana.Menghilang sejak beberapa bulan lalu.Ayah diPHK.Akibatnya Ayah menjadi stres berat dan mulai mabuk-mabukan.
Kondisi keluarga kami amat menyedihkan,dan karena kemampuan finansial yang minim,maka saya pun lebih memilìh berhenti dari sekolah dan mulai membantu keluarga dengan berjualan rokok keliling dilampu merah.
2 adik saya pun diberhentikan oleh pihak sekolah,karena berbulan-bulan menunggak SPP.
Dari semenjak itulah hati saya seperti diikat oleh rasa sakit hati yang sangat dalamnya.Tapi entah,begitu tak jelas,pada siapa atau terhadap apa munculnya rasa sakit dihati saya.Mungkin pada kenyataan.Atau mungkin pada keterpurukan.
Beberapa minggu setelah Ayah diPHK,ibu mulai menjual goreng-gorengan dan dititipkan diwarung tetangga.Adik saya pun membantu mengantarkannya.Tak hanya menjual gorengan,ibu pun bekerja sebagai kuli mencuci dirumah tetangga.Tapi setelah itu ibu mendadak sakit.Tiada daya,kami tak bisa membawa ibu kedokter karena tak cukup biaya.Hanya puskesmas yang menjadi tempat ibu berobat,meski berulang kali dokter dipuskmas berkata bahwa ibu harus segera menjalani perawatan dirumah sakit...Tapi apa daya kami tak memiliki cukup uang untuk membawa ibu kesana.kadang saya menangis sendiri,menatap tubuh ibu yang terbaring lemah ditempat tidur.Saya sungguh tak tega nyonya.Tekad saya makin membara untuk bekerja keras..Saya pun mencoba pekerjaan lain,seperti berjualan koran,mencuci piring dirumah makan.Dari pagi buta sampai gelap senja saya bekerja,itu semata buat dan demi ibu.Namun uang pas-pasan itu selalu tak cukup.Ayah selalu meminta uang itu dari ibu untuk memasang judi kupon sembunyi-sembunyi.Ayah sering merayu ibu dengan berkata 'nanti pun jika Ayah dapat judi itu kami akan kaya'.Tapi tak pernah Ayah mendapatkannya..Yaaa meski pun Ayah dapat,tapi aku yakin ibu saya yang ta'at ibadah takkan sudi menerimanya.
Dibawah tiang rambu lampu merah saya sering duduk merenung dipayungi terik dibalut lelah.Dan ditepi jalan itu pula saya sering menyimpan dendam,tapi entah dendam kepada siapa atau pada apa..Emak tidak bisa kedokter,tapi orang lain bisa, melunggang mulus dengan mobil mewahnya.Sesekali menelepon dengan handpone mahal.Dan direstoran bertingkat seberang lampu merah saya sering melihat orang-orang makan enak dengan ratusan ribu rupiah.Sedangkan ibu saya tidak.Tekad saya makin keras demi ibu.Saya merencanakan untuk mencopet.Tapi saya selalu gagal menjadi pencopet karena nasihat-nasihat ibu saya yang seperti tak pudar dipikiran.Hanya keringat dingin yang mengalir.Hingga pada hari itu saya melihat nyonya keluar dari toko,dan memasukan dompet kekantong belanjaan.Dengan sengaja saya berpura-pura menabrak nyonya,lalu dengan cepat saya mengambil dompet nyonya.
Saya segera pulang kerumah,saya sangat sumringah,karena dengan uang 100 ribu,saya pasti bisa membawa ibu kedokter,dan makan makanan enak.
Tapi ibu menatap saya begitu tajam.Bertanya darimana saya dapat uang tersebut?Tadinya saya ingin berkata bahwa uang itu hasil tabungan saya.Tapi sekali lagi..Saya selalu tidak bisa berbohong pada ibu.Dan akhirnya saya berkata yg sebenarnya.
Ibu merunduk,menangis,membasahi pipi tuanya dengan airmata.Aku menyesal,aku bingung,aku ingin berteriak..Sebenarnya dengan uang 100 ribu ini saya bisa makan enak,mabuk,belanja,tanpa harus pedulikan ibu,pedulikan orang yang kehilangan,dan tanpa pedulikan orang yang tak peduli pada kami..Tapi tidak.Saya tidak bisa melakukannya,karena ibu tak pernah mengajarkan hal itu kepada saya.
Ini dompet dan uang 100 ribu milik nyonya.Maafkan saya nyonya.
Nasihat ibu tentang kejujuran,tentang kelurusan hidup.
NYonya munghujani wajahnya dengan airmata.bercermin pada kehidupan ibu dari remaja pencuri dompetnya.
"Bawa jauh-jauh uang itu dari ku".Ucapnya dengan tubuh lemah.
"Tapi aku tak rela,aku resah,aku gundah jika terus-menerus melihat ibu dalam keadaan begini".
"co..Kamu dengar apa kata ibu tadi". ("Irama bicara ibu naik beberapa nada"),meski tubuhnya lemah dibalut sakit.
"Sungguh..Mati terhormat itu lebih baik daripada hidup terlaknat".
"Aku ingin ibu sembuh..Aku ingin ibu tak sakit-sakitan lagi. aku ingin melihat ibu seperti biasa lagi".
"tapi tidak perlu dengan uang hasil rampokan?".
"iyaa bu.Maafkan aku".aco mulai meruduk wajahnya."Tapi ini kulakukan karena keterpaksaan.
bu..Aku tak tega melihat ibu terus lemah terbaring ditempat tidur karena penyakit kambuhan...
Sedangkan Ayah..Dimana kini Ayah?..Dia selalu tak peduli pada keadaan kita..Dia seperti menganggap kita sudah tak ada".
Ibu memalingkan wajah.Merunduk,memandang sabah tikar usangnya.Huhhf..Mata ibu berkaca-kaca.Ketika menyebut-nyebut suaminya."coooo..Dimana suamiku? Dimana Dia? Sudah sebulan lebih dia tak pulang".Bisik hati ibu.
aco merangkai jarak dari ibu.Duduk lemas dilantai tanah rumah.Airmatanya perlahan mengalir,tetes demi tetes."Aku selalu rindu masa dahulu bu..Ketika kebahagian mengutuhkan keluarga kita.Bu..Jika anak-anak remaja lain mempunyai cita-cita yang sangat tinggi.Maka cukuplah cita-citaku adalah melihat ibu sembuh dan Ayah pulang kembali kerumah..Itu pun sudah sangat lebih dari cukup".
Hmmh..Sendu dari tangis,desah,dan gumam bersatu padu.aco,remaja yang putus sekolah karena alasan biaya,sungguh tak kuasa menahan sakit rasa.
" Jangan buat ibu sedih nak karena melihatmu sedih...Bangunlah sayang,berdirilah.Berilah contoh yg baik untuk adik-adikmu.Pergilah,antarkan kembali uang itu kepemiliknya".
"Tapi bu...".
"Tidak ada kata tapi..Karena ini menyangkut akhlaq dan ketaatan kita kepada Allah...Jadilah laki-laki yg bertanggung jawab".
Yaaa seperti itulah ibu.Perempuan taat yang selalu mengajarkan yang terbaik kepada anak-anaknya.
Namun hati aco masih berdesus penuh tanya dan keraguan."Aku malu harus berkata apa..Seperti apa caranya kukembalikan uang ini?".
2 Hari kemudian
rumah pemilik***
Diluar nampak seorang laki-laki remaja tengah berdiri tepat dipagar rumah.Sejak 5 menit tadi dia berada disana.pemilik rumah sembunyi dibalik kaca nako berbalut gordeng hitam,membukakan sedikit bagian gordeng untuk mengintip gerak gerik remaja tersebut.
Nyonya tua amat ketakutan,pikirnya jauh terbang,menyentuh ketakutan yang dahsyat menjulang."Siapa pemuda itu? Rasa-rasanya saya pernah melihat dia?" gumam nyonya.
Nyonya amat takut jika remaja diluar tersebut mempunyai niat jahat,seperti misalnya mencuri.Sebenarnya nyonya ingin sekali menelpon polisi,tetangga,suami atau anak-anaknya yang sedang bekerja,tapi Tiba-tiba seluruh badan nyonya menjadi sangat dingin dan sulit rasanya buat melangkah.Nyonya hanya bisa mematung,sambil berdo'a dan berharap semoga remaja itu tak mempunyai niat jahat. Rasa takutnya nian besar,mengalahkan rasa-rasa lainnya.Apalagi ketika remaja itu masuk melompati pagar depan rumah nyonya,dan kemudian berjalan mendekat.Hmmh rasanya penyakit jantung nyonya akan kambuh.
Namun tiba-tiba saja perasaan nyonya berubah menjadi heran.Rasa takutnya hilang seketika ketika remaja tersebut kembali pergi,setelah menyimpan sesuatu didepan pintu."Yaah,sekarang saya baru ingat remaja tadi adalah remaja yang 2 hari lalu menabraknya.Tapi apa yang dia lakukan disini,dan apa yang tadi dia simpan?".Hati nyonya tak henti berbisik.
*************
"Assalamu'alaikum...Nyonya yang baik..Maafkan saya karena telah banyak merugikan nyonya..Maafkan saya juga yang telah mencuri dompet nyonya..Tapi hari ini saya datang untuk mengembalikannya.Meski sebenarnya saya tak punya keberanian melakukan ini.
Maafkan saya Nyonya.Saya terpaksa mencuri,karena keadaan yang menyeret saya melakukannya.
Sudah 2 bulan ini ibu saya sakit-sakitan.Terdapat kebocoran diginjalnya,dan kini beliau hanya terbaring lemah ditempat tidurnya.Ayah saya pun kini entah dimana.Menghilang sejak beberapa bulan lalu.Ayah diPHK.Akibatnya Ayah menjadi stres berat dan mulai mabuk-mabukan.
Kondisi keluarga kami amat menyedihkan,dan karena kemampuan finansial yang minim,maka saya pun lebih memilìh berhenti dari sekolah dan mulai membantu keluarga dengan berjualan rokok keliling dilampu merah.
2 adik saya pun diberhentikan oleh pihak sekolah,karena berbulan-bulan menunggak SPP.
Dari semenjak itulah hati saya seperti diikat oleh rasa sakit hati yang sangat dalamnya.Tapi entah,begitu tak jelas,pada siapa atau terhadap apa munculnya rasa sakit dihati saya.Mungkin pada kenyataan.Atau mungkin pada keterpurukan.
Beberapa minggu setelah Ayah diPHK,ibu mulai menjual goreng-gorengan dan dititipkan diwarung tetangga.Adik saya pun membantu mengantarkannya.Tak hanya menjual gorengan,ibu pun bekerja sebagai kuli mencuci dirumah tetangga.Tapi setelah itu ibu mendadak sakit.Tiada daya,kami tak bisa membawa ibu kedokter karena tak cukup biaya.Hanya puskesmas yang menjadi tempat ibu berobat,meski berulang kali dokter dipuskmas berkata bahwa ibu harus segera menjalani perawatan dirumah sakit...Tapi apa daya kami tak memiliki cukup uang untuk membawa ibu kesana.kadang saya menangis sendiri,menatap tubuh ibu yang terbaring lemah ditempat tidur.Saya sungguh tak tega nyonya.Tekad saya makin membara untuk bekerja keras..Saya pun mencoba pekerjaan lain,seperti berjualan koran,mencuci piring dirumah makan.Dari pagi buta sampai gelap senja saya bekerja,itu semata buat dan demi ibu.Namun uang pas-pasan itu selalu tak cukup.Ayah selalu meminta uang itu dari ibu untuk memasang judi kupon sembunyi-sembunyi.Ayah sering merayu ibu dengan berkata 'nanti pun jika Ayah dapat judi itu kami akan kaya'.Tapi tak pernah Ayah mendapatkannya..Yaaa meski pun Ayah dapat,tapi aku yakin ibu saya yang ta'at ibadah takkan sudi menerimanya.
Dibawah tiang rambu lampu merah saya sering duduk merenung dipayungi terik dibalut lelah.Dan ditepi jalan itu pula saya sering menyimpan dendam,tapi entah dendam kepada siapa atau pada apa..Emak tidak bisa kedokter,tapi orang lain bisa, melunggang mulus dengan mobil mewahnya.Sesekali menelepon dengan handpone mahal.Dan direstoran bertingkat seberang lampu merah saya sering melihat orang-orang makan enak dengan ratusan ribu rupiah.Sedangkan ibu saya tidak.Tekad saya makin keras demi ibu.Saya merencanakan untuk mencopet.Tapi saya selalu gagal menjadi pencopet karena nasihat-nasihat ibu saya yang seperti tak pudar dipikiran.Hanya keringat dingin yang mengalir.Hingga pada hari itu saya melihat nyonya keluar dari toko,dan memasukan dompet kekantong belanjaan.Dengan sengaja saya berpura-pura menabrak nyonya,lalu dengan cepat saya mengambil dompet nyonya.
Saya segera pulang kerumah,saya sangat sumringah,karena dengan uang 100 ribu,saya pasti bisa membawa ibu kedokter,dan makan makanan enak.
Tapi ibu menatap saya begitu tajam.Bertanya darimana saya dapat uang tersebut?Tadinya saya ingin berkata bahwa uang itu hasil tabungan saya.Tapi sekali lagi..Saya selalu tidak bisa berbohong pada ibu.Dan akhirnya saya berkata yg sebenarnya.
Ibu merunduk,menangis,membasahi pipi tuanya dengan airmata.Aku menyesal,aku bingung,aku ingin berteriak..Sebenarnya dengan uang 100 ribu ini saya bisa makan enak,mabuk,belanja,tanpa harus pedulikan ibu,pedulikan orang yang kehilangan,dan tanpa pedulikan orang yang tak peduli pada kami..Tapi tidak.Saya tidak bisa melakukannya,karena ibu tak pernah mengajarkan hal itu kepada saya.
Ini dompet dan uang 100 ribu milik nyonya.Maafkan saya nyonya.
Nasihat ibu tentang kejujuran,tentang kelurusan hidup.
NYonya munghujani wajahnya dengan airmata.bercermin pada kehidupan ibu dari remaja pencuri dompetnya.
Minggu, 31 Oktober 2010
nasehat untuk penggembala untuk mengembalikan fitrah
Bangun, bangunlah kealam pemikiran yang baru. Lihatlah tanaman yang mulai bersemi itu.
(Tanaman yang mulai bersemi adalah benih iman. Secara hakikat Allah sudah mengisi setiap manusia dengan benih-benih kebaikan. Tinggal manusianya ada yang merawat dan ada juga yang mengacuhkannya.)
Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati.
Para penguasa diibaratkan sebagai penggembala yang ‘menggembalakan’ rakyat. Para penguasa itu disarankan untuk ‘mengambil’ agama Islam
(disimbolkan dengan buah belimbing yang mempunyai bentuk segi lima sebagai lambang rukun Islam).
Walaupun licin, susah, tetapi usahakanlah agar dapat masuk Islam demi mensucikan dodot.
(Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar jaman dulu. Bagi orang Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan).
Pakaianmu, (yaitu) agamamu sudah rusak maka jahitlah (perbaiki), sebagai bekal menghadap Tuhanmu.
Selagi ada cahaya terang yang menuntunmu, selagi masih hidup dan masih ada kesempatan bertobat.
Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan…
(Tanaman yang mulai bersemi adalah benih iman. Secara hakikat Allah sudah mengisi setiap manusia dengan benih-benih kebaikan. Tinggal manusianya ada yang merawat dan ada juga yang mengacuhkannya.)
Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati.
Para penguasa diibaratkan sebagai penggembala yang ‘menggembalakan’ rakyat. Para penguasa itu disarankan untuk ‘mengambil’ agama Islam
(disimbolkan dengan buah belimbing yang mempunyai bentuk segi lima sebagai lambang rukun Islam).
Walaupun licin, susah, tetapi usahakanlah agar dapat masuk Islam demi mensucikan dodot.
(Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar jaman dulu. Bagi orang Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan).
Pakaianmu, (yaitu) agamamu sudah rusak maka jahitlah (perbaiki), sebagai bekal menghadap Tuhanmu.
Selagi ada cahaya terang yang menuntunmu, selagi masih hidup dan masih ada kesempatan bertobat.
Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan…
cinta tak bertuan
Ku tak mengerti tentang perasaanku
Setiap ku melihat mu
Hatiku begitu damai
Rasa tak ingin kulewati
Walau sedikit pun
Apakah rasa ini akan selalu ada
Tetapi aku takut
Jika perasaan ku tak terbalas
Mungkinkah perasaan ku
Akan di balas dengan senyuman
Akupun tak tahu
Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya
Hari berganti hari
Siang malam ku selalu ingat kamu
Sejak melihatmu
Hidupku begitu bahagia
Entah mengapa bayangan wajahmu
Begitu membuat diriku tak berdaya
Setiap kutatap matamu
Jantungku berdetak sangat cepat
Apa ini cinta?
Atau hanya perasaan sesaat saja?
Entahlah...
Ku tak dapat menjawabnya
Biarlah ini semua berjalan apa adanya
Ketika Aku Merindukanmu
Ketika aku merindukanmu…
Kutuliskan semua rasa yang ada
Kucoba rangkai menjadi bait-bait puisi indah
Seadanya rasa ini, sedalamnya hatiku
...
Ketika aku merindukanmu…
Tak terasa tetes airmata jatuh di pipiku
Dikala tak sedikitpun dapat kutemui adamu
Lirih pun tak kudengar suara manismu
Ketika aku merindukanmu…
Aku ingin waktu berputar ke masa lalu
Saat dimana aku ada disampingmu
Ketika dirimu belum pergi dari kehidupanku
Ketika aku merindukanmu…
Langit yang biru pun terasa kelabu
Panas mentari tak mampu hangatkan jiwaku
Tak ada rasa indah dalam kehidupanku
Ketika aku merindukanmu…
Berjuta angan inginkan kembali kehadiranmu
Walau harus berjalan jauh menjemputmu
Kurela demi bahagianya hatiku
Ketika aku merindukanmu…
Semua langkah tanpamu terasa kaku
Tak ada tawa terlahir serenyah bersamamu
Hidup sepenuhnya terasa pilu
Ketika aku merindukanmu…
Ingin rasanya aku menuruti semua egoku
Raih bahagiaku, mungkin acuhkan bahagiamu
Syukurku, ketika merindukanmu tak ku lakukan itu
Ketika aku merindukanmu…
Kutatap langit, kulihat engkau menatapku
Kutatap air, kuingat kenangan bersamamu
Kutatap hidupku, begitu kosong tanpamu
Ketika aku merindukanmu…
Aku bersedih kala teringat dia disampingmu
Begitu ingin kuhapuskan kerinduan ini
Namun hati masih ingin mengharapkan kembalimu
Ketika aku merindukanmu…
Berjuta tanya menyeruak dipikiranku
Adakah juga kau rasakan kerinduan padaku
Tak terbersitkah keinginan bertemu lagi denganku
Ketika aku merindukanmu…
Tak sedikitpun kusesali pertemuan awal itu
Tak ada hasrat untuk memisahkanmu
Tak ada rasa ingin membelenggu jiwamu
Ketika aku merindukanmu…
Ratusan malam kuhabiskan menunggu
Banyak mimpi kutabur di taman hatiku
Berharap esok kau berdiri di depan pintu hatiku
Ketika aku merindukanmu…
Terkadang datang ragu, coba tepiskan indahmu
Terkadang kupeluk bayangmu yang semu
Kutatap fotomu, berharap engkau melihatku
Ketika aku merindukanmu…
Berjuta penyesalan hadir atas semua khilafku
Berandai dapat kuperbaiki masa lalu
Seandainya dapat, kutata ulang kehidupanku
Ketika aku merindukanmu…
Terselip tanya “adakah kau menyesal mengenalku ?”
Terselip tanya “tak bisakah kau miliki saja diriku ?”
Terselip tanya “begitu mudahkah hapuskan diriku dari kehidupanmu ?”
Ketika aku merindukanmu…
Setengahnya kumerasa malu, karna mungkin hanya aku
Di sampingmu bukan diriku, mungkinkah dipikirmu ada diriku
Hingga dihatimu, masih bisa merindukan sosok lemahku
Ketika aku merindukanmu…
Hanya ungkapan rasa ini yang kumampu
Meski takkan pernah dapat menjadi obat bagiku
Sedikitnya melepaskan sedikit rasa dari hatiku
Ketika aku merindukanmu…
Kurelakan semua rasa sayang ini menunggu
Kubiarkan diri ini mengenang memori masa lalu
Kuyakinkan hatiku jangan memilih tuk ragu
Ketika aku merindukanmu…
Harapan tumbuh, serasa ku mampu sendiri dulu
Kubiarkan hati putih tanpa debu cinta yang lain
Mencoba buktikan betapa setianya diriku
Ketika aku merindukanmu…
Kuberikan semua rasa sayang yang tulus untukmu
Kuhapus ingatan tentang ketaksempurnaanmu
Kuyakinkah hati sesungguhnya kita adalah satu
Ketika aku merindukanmu…
Kusadari betapa lemahnya diriku tanpamu
Kuteringat betapa kasarnya diriku dulu
Betapa ingin memohon dirimu kembali padaku
Ketika aku merindukanmu…
Kucoba merangkai semua imaji bahwa kau pun merindu
Kucoba bermimpi kau pun memimpikan keberadaanku
Kucoba menunggu, buktikan takdir dan inginku
Ketika aku merindukanmu…
Tak kuasa logika atas semua rasa dalam hatiku
Tak kuasa raga atas keberadaan jiwa lemahku
Tulus mencintaimu, dari ketidaksempurnaanmu
Ketika aku merindukanmu…
Kupintakan dirimu sehat s’lalu hingga batas waktu
Berkhayal kelak dapat kulihat kembali sosok indahmu
dan kudengar lagi… suara manja dan manismu
Ketika aku merindukanmu…
Kuterpaku dengan kata-kata cinta dan setia
Tulus dan tanpa harus dirasa oleh berdua
Hingga sering membuatku menjadi rapuh
Ketika aku merindukanmu…
Menjadi seperti inilah diriku
Terlihat jelas seluruh isi hati dan pikiranku
Hanya karena aku merindukanmu…
Kurasakan putih dan tulusnya cinta
Indahnya memberi, teguhnya rasa
Bagaimana hati mencoba setia
Ketika aku merindukanmu…
Rindu hanyalah satu-satunya kata di hatiku
Setiap ku melihat mu
Hatiku begitu damai
Rasa tak ingin kulewati
Walau sedikit pun
Apakah rasa ini akan selalu ada
Tetapi aku takut
Jika perasaan ku tak terbalas
Mungkinkah perasaan ku
Akan di balas dengan senyuman
Akupun tak tahu
Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya
Hari berganti hari
Siang malam ku selalu ingat kamu
Sejak melihatmu
Hidupku begitu bahagia
Entah mengapa bayangan wajahmu
Begitu membuat diriku tak berdaya
Setiap kutatap matamu
Jantungku berdetak sangat cepat
Apa ini cinta?
Atau hanya perasaan sesaat saja?
Entahlah...
Ku tak dapat menjawabnya
Biarlah ini semua berjalan apa adanya
Ketika Aku Merindukanmu
Ketika aku merindukanmu…
Kutuliskan semua rasa yang ada
Kucoba rangkai menjadi bait-bait puisi indah
Seadanya rasa ini, sedalamnya hatiku
...
Ketika aku merindukanmu…
Tak terasa tetes airmata jatuh di pipiku
Dikala tak sedikitpun dapat kutemui adamu
Lirih pun tak kudengar suara manismu
Ketika aku merindukanmu…
Aku ingin waktu berputar ke masa lalu
Saat dimana aku ada disampingmu
Ketika dirimu belum pergi dari kehidupanku
Ketika aku merindukanmu…
Langit yang biru pun terasa kelabu
Panas mentari tak mampu hangatkan jiwaku
Tak ada rasa indah dalam kehidupanku
Ketika aku merindukanmu…
Berjuta angan inginkan kembali kehadiranmu
Walau harus berjalan jauh menjemputmu
Kurela demi bahagianya hatiku
Ketika aku merindukanmu…
Semua langkah tanpamu terasa kaku
Tak ada tawa terlahir serenyah bersamamu
Hidup sepenuhnya terasa pilu
Ketika aku merindukanmu…
Ingin rasanya aku menuruti semua egoku
Raih bahagiaku, mungkin acuhkan bahagiamu
Syukurku, ketika merindukanmu tak ku lakukan itu
Ketika aku merindukanmu…
Kutatap langit, kulihat engkau menatapku
Kutatap air, kuingat kenangan bersamamu
Kutatap hidupku, begitu kosong tanpamu
Ketika aku merindukanmu…
Aku bersedih kala teringat dia disampingmu
Begitu ingin kuhapuskan kerinduan ini
Namun hati masih ingin mengharapkan kembalimu
Ketika aku merindukanmu…
Berjuta tanya menyeruak dipikiranku
Adakah juga kau rasakan kerinduan padaku
Tak terbersitkah keinginan bertemu lagi denganku
Ketika aku merindukanmu…
Tak sedikitpun kusesali pertemuan awal itu
Tak ada hasrat untuk memisahkanmu
Tak ada rasa ingin membelenggu jiwamu
Ketika aku merindukanmu…
Ratusan malam kuhabiskan menunggu
Banyak mimpi kutabur di taman hatiku
Berharap esok kau berdiri di depan pintu hatiku
Ketika aku merindukanmu…
Terkadang datang ragu, coba tepiskan indahmu
Terkadang kupeluk bayangmu yang semu
Kutatap fotomu, berharap engkau melihatku
Ketika aku merindukanmu…
Berjuta penyesalan hadir atas semua khilafku
Berandai dapat kuperbaiki masa lalu
Seandainya dapat, kutata ulang kehidupanku
Ketika aku merindukanmu…
Terselip tanya “adakah kau menyesal mengenalku ?”
Terselip tanya “tak bisakah kau miliki saja diriku ?”
Terselip tanya “begitu mudahkah hapuskan diriku dari kehidupanmu ?”
Ketika aku merindukanmu…
Setengahnya kumerasa malu, karna mungkin hanya aku
Di sampingmu bukan diriku, mungkinkah dipikirmu ada diriku
Hingga dihatimu, masih bisa merindukan sosok lemahku
Ketika aku merindukanmu…
Hanya ungkapan rasa ini yang kumampu
Meski takkan pernah dapat menjadi obat bagiku
Sedikitnya melepaskan sedikit rasa dari hatiku
Ketika aku merindukanmu…
Kurelakan semua rasa sayang ini menunggu
Kubiarkan diri ini mengenang memori masa lalu
Kuyakinkan hatiku jangan memilih tuk ragu
Ketika aku merindukanmu…
Harapan tumbuh, serasa ku mampu sendiri dulu
Kubiarkan hati putih tanpa debu cinta yang lain
Mencoba buktikan betapa setianya diriku
Ketika aku merindukanmu…
Kuberikan semua rasa sayang yang tulus untukmu
Kuhapus ingatan tentang ketaksempurnaanmu
Kuyakinkah hati sesungguhnya kita adalah satu
Ketika aku merindukanmu…
Kusadari betapa lemahnya diriku tanpamu
Kuteringat betapa kasarnya diriku dulu
Betapa ingin memohon dirimu kembali padaku
Ketika aku merindukanmu…
Kucoba merangkai semua imaji bahwa kau pun merindu
Kucoba bermimpi kau pun memimpikan keberadaanku
Kucoba menunggu, buktikan takdir dan inginku
Ketika aku merindukanmu…
Tak kuasa logika atas semua rasa dalam hatiku
Tak kuasa raga atas keberadaan jiwa lemahku
Tulus mencintaimu, dari ketidaksempurnaanmu
Ketika aku merindukanmu…
Kupintakan dirimu sehat s’lalu hingga batas waktu
Berkhayal kelak dapat kulihat kembali sosok indahmu
dan kudengar lagi… suara manja dan manismu
Ketika aku merindukanmu…
Kuterpaku dengan kata-kata cinta dan setia
Tulus dan tanpa harus dirasa oleh berdua
Hingga sering membuatku menjadi rapuh
Ketika aku merindukanmu…
Menjadi seperti inilah diriku
Terlihat jelas seluruh isi hati dan pikiranku
Hanya karena aku merindukanmu…
Kurasakan putih dan tulusnya cinta
Indahnya memberi, teguhnya rasa
Bagaimana hati mencoba setia
Ketika aku merindukanmu…
Rindu hanyalah satu-satunya kata di hatiku
Sabtu, 30 Oktober 2010
Benarkah pembeli adalah raja..?
Pada puasa ke 23. sore itu hari sangat panas (mungkin karena efek global warming juga kali yach..?)
waktu itu sudah menjelang buka puasaDali yg merasa haus rela antri, demi membeli es buah bang A'eng.ketika itu tinggal 2 orang yg di layani, (dali dan A'i) tiba2 seorang pria
"hei bang kalau jualan yg serius dong. masa.? es buah saya rasanya gak manis..? teriak nya."
si tukang cendol (Bang A'eng) yg sedang yg sedang melayani Dali tentu saja kaget.& = "maaf pak, apa memang begitu.? kl iya nanti saya ganti pak."
si pria itu gak mau kalah.@ = "hey bang tahu tidak..? pembeli itu adalah raja, jadi jangan dikecewakan....!!!"
si tukang es buah menyahut,& = "tahu sich pak kalau pembeli itu raja, tapi saya belum pernah denger, ada raja yang membeli cendol.."
waktu itu sudah menjelang buka puasaDali yg merasa haus rela antri, demi membeli es buah bang A'eng.ketika itu tinggal 2 orang yg di layani, (dali dan A'i) tiba2 seorang pria
"hei bang kalau jualan yg serius dong. masa.? es buah saya rasanya gak manis..? teriak nya."
si tukang cendol (Bang A'eng) yg sedang yg sedang melayani Dali tentu saja kaget.& = "maaf pak, apa memang begitu.? kl iya nanti saya ganti pak."
si pria itu gak mau kalah.@ = "hey bang tahu tidak..? pembeli itu adalah raja, jadi jangan dikecewakan....!!!"
si tukang es buah menyahut,& = "tahu sich pak kalau pembeli itu raja, tapi saya belum pernah denger, ada raja yang membeli cendol.."
Langganan:
Postingan (Atom)
Home