~Kesenian adalah Keluhuran Hati ~

~Tuhanku...Aku ingin menghibur dari dhibur...Aku ingin mengasihi dari dkasihi...Mencintai dari dcintai...Kerna dengan memberi aku menerima...Dengan memaafkan aku dmaafkan...Dengan cinta aku bangkit kembali & Dengan cinta aku hidup abadi...Dan bermulalah bicara untaian kata antara hati dan perasaan...~

Sabtu, 27 November 2010

kejujuran

Sebuah cerita tentang nasihat bunda,penyejuk jiwa penuntun raga.

"Bawa jauh-jauh uang itu dari ku".Ucapnya dengan tubuh lemah.

"Tapi aku tak rela,aku resah,aku gundah jika terus-menerus melihat ibu dalam keadaan begini".

"co..Kamu dengar apa kata ibu tadi". ("Irama bicara ibu naik beberapa nada"),meski tubuhnya lemah dibalut sakit.
"Sungguh..Mati terhormat itu lebih baik daripada hidup terlaknat".

"Aku ingin ibu sembuh..Aku ingin ibu tak sakit-sakitan lagi. aku ingin melihat ibu seperti biasa lagi".

"tapi tidak perlu dengan uang hasil rampokan?".

"iyaa bu.Maafkan aku".aco mulai meruduk wajahnya."Tapi ini kulakukan karena keterpaksaan.
bu..Aku tak tega melihat ibu terus lemah terbaring ditempat tidur karena penyakit kambuhan...
Sedangkan Ayah..Dimana kini Ayah?..Dia selalu tak peduli pada keadaan kita..Dia seperti menganggap kita sudah tak ada".

Ibu memalingkan wajah.Merunduk,memandang sabah tikar usangnya.Huhhf..Mata ibu berkaca-kaca.Ketika menyebut-nyebut suaminya."coooo..Dimana suamiku? Dimana Dia? Sudah sebulan lebih dia tak pulang".Bisik hati ibu.

aco merangkai jarak dari ibu.Duduk lemas dilantai tanah rumah.Airmatanya perlahan mengalir,tetes demi tetes."Aku selalu rindu masa dahulu bu..Ketika kebahagian mengutuhkan keluarga kita.Bu..Jika anak-anak remaja lain mempunyai cita-cita yang sangat tinggi.Maka cukuplah cita-citaku adalah melihat ibu sembuh dan Ayah pulang kembali kerumah..Itu pun sudah sangat lebih dari cukup".

Hmmh..Sendu dari tangis,desah,dan gumam bersatu padu.aco,remaja yang putus sekolah karena alasan biaya,sungguh tak kuasa menahan sakit rasa.

" Jangan buat ibu sedih nak karena melihatmu sedih...Bangunlah sayang,berdirilah.Berilah contoh yg baik untuk adik-adikmu.Pergilah,antarkan kembali uang itu kepemiliknya".

"Tapi bu...".

"Tidak ada kata tapi..Karena ini menyangkut akhlaq dan ketaatan kita kepada Allah...Jadilah laki-laki yg bertanggung jawab".

Yaaa seperti itulah ibu.Perempuan taat yang selalu mengajarkan yang terbaik kepada anak-anaknya.

Namun hati aco masih berdesus penuh tanya dan keraguan."Aku malu harus berkata apa..Seperti apa caranya kukembalikan uang ini?".

2 Hari kemudian

rumah pemilik***

Diluar nampak seorang laki-laki remaja tengah berdiri tepat dipagar rumah.Sejak 5 menit tadi dia berada disana.pemilik rumah sembunyi dibalik kaca nako berbalut gordeng hitam,membukakan sedikit bagian gordeng untuk mengintip gerak gerik remaja tersebut.

Nyonya tua amat ketakutan,pikirnya jauh terbang,menyentuh ketakutan yang dahsyat menjulang."Siapa pemuda itu? Rasa-rasanya saya pernah melihat dia?" gumam nyonya.

Nyonya amat takut jika remaja diluar tersebut mempunyai niat jahat,seperti misalnya mencuri.Sebenarnya nyonya ingin sekali menelpon polisi,tetangga,suami atau anak-anaknya yang sedang bekerja,tapi Tiba-tiba seluruh badan nyonya menjadi sangat dingin dan sulit rasanya buat melangkah.Nyonya hanya bisa mematung,sambil berdo'a dan berharap semoga remaja itu tak mempunyai niat jahat. Rasa takutnya nian besar,mengalahkan rasa-rasa lainnya.Apalagi ketika remaja itu masuk melompati pagar depan rumah nyonya,dan kemudian berjalan mendekat.Hmmh rasanya penyakit jantung nyonya akan kambuh.

Namun tiba-tiba saja perasaan nyonya berubah menjadi heran.Rasa takutnya hilang seketika ketika remaja tersebut kembali pergi,setelah menyimpan sesuatu didepan pintu."Yaah,sekarang saya baru ingat remaja tadi adalah remaja yang 2 hari lalu menabraknya.Tapi apa yang dia lakukan disini,dan apa yang tadi dia simpan?".Hati nyonya tak henti berbisik.

*************
"Assalamu'alaikum...Nyonya yang baik..Maafkan saya karena telah banyak merugikan nyonya..Maafkan saya juga yang telah mencuri dompet nyonya..Tapi hari ini saya datang untuk mengembalikannya.Meski sebenarnya saya tak punya keberanian melakukan ini.

Maafkan saya Nyonya.Saya terpaksa mencuri,karena keadaan yang menyeret saya melakukannya.

Sudah 2 bulan ini ibu saya sakit-sakitan.Terdapat kebocoran diginjalnya,dan kini beliau hanya terbaring lemah ditempat tidurnya.Ayah saya pun kini entah dimana.Menghilang sejak beberapa bulan lalu.Ayah diPHK.Akibatnya Ayah menjadi stres berat dan mulai mabuk-mabukan.

Kondisi keluarga kami amat menyedihkan,dan karena kemampuan finansial yang minim,maka saya pun lebih memilìh berhenti dari sekolah dan mulai membantu keluarga dengan berjualan rokok keliling dilampu merah.

2 adik saya pun diberhentikan oleh pihak sekolah,karena berbulan-bulan menunggak SPP.

Dari semenjak itulah hati saya seperti diikat oleh rasa sakit hati yang sangat dalamnya.Tapi entah,begitu tak jelas,pada siapa atau terhadap apa munculnya rasa sakit dihati saya.Mungkin pada kenyataan.Atau mungkin pada keterpurukan.

Beberapa minggu setelah Ayah diPHK,ibu mulai menjual goreng-gorengan dan dititipkan diwarung tetangga.Adik saya pun membantu mengantarkannya.Tak hanya menjual gorengan,ibu pun bekerja sebagai kuli mencuci dirumah tetangga.Tapi setelah itu ibu mendadak sakit.Tiada daya,kami tak bisa membawa ibu kedokter karena tak cukup biaya.Hanya puskesmas yang menjadi tempat ibu berobat,meski berulang kali dokter dipuskmas berkata bahwa ibu harus segera menjalani perawatan dirumah sakit...Tapi apa daya kami tak memiliki cukup uang untuk membawa ibu kesana.kadang saya menangis sendiri,menatap tubuh ibu yang terbaring lemah ditempat tidur.Saya sungguh tak tega nyonya.Tekad saya makin membara untuk bekerja keras..Saya pun mencoba pekerjaan lain,seperti berjualan koran,mencuci piring dirumah makan.Dari pagi buta sampai gelap senja saya bekerja,itu semata buat dan demi ibu.Namun uang pas-pasan itu selalu tak cukup.Ayah selalu meminta uang itu dari ibu untuk memasang judi kupon sembunyi-sembunyi.Ayah sering merayu ibu dengan berkata 'nanti pun jika Ayah dapat judi itu kami akan kaya'.Tapi tak pernah Ayah mendapatkannya..Yaaa meski pun Ayah dapat,tapi aku yakin ibu saya yang ta'at ibadah takkan sudi menerimanya.

Dibawah tiang rambu lampu merah saya sering duduk merenung dipayungi terik dibalut lelah.Dan ditepi jalan itu pula saya sering menyimpan dendam,tapi entah dendam kepada siapa atau pada apa..Emak tidak bisa kedokter,tapi orang lain bisa, melunggang mulus dengan mobil mewahnya.Sesekali menelepon dengan handpone mahal.Dan direstoran bertingkat seberang lampu merah saya sering melihat orang-orang makan enak dengan ratusan ribu rupiah.Sedangkan ibu saya tidak.Tekad saya makin keras demi ibu.Saya merencanakan untuk mencopet.Tapi saya selalu gagal menjadi pencopet karena nasihat-nasihat ibu saya yang seperti tak pudar dipikiran.Hanya keringat dingin yang mengalir.Hingga pada hari itu saya melihat nyonya keluar dari toko,dan memasukan dompet kekantong belanjaan.Dengan sengaja saya berpura-pura menabrak nyonya,lalu dengan cepat saya mengambil dompet nyonya.

Saya segera pulang kerumah,saya sangat sumringah,karena dengan uang 100 ribu,saya pasti bisa membawa ibu kedokter,dan makan makanan enak.

Tapi ibu menatap saya begitu tajam.Bertanya darimana saya dapat uang tersebut?Tadinya saya ingin berkata bahwa uang itu hasil tabungan saya.Tapi sekali lagi..Saya selalu tidak bisa berbohong pada ibu.Dan akhirnya saya berkata yg sebenarnya.

Ibu merunduk,menangis,membasahi pipi tuanya dengan airmata.Aku menyesal,aku bingung,aku ingin berteriak..Sebenarnya dengan uang 100 ribu ini saya bisa makan enak,mabuk,belanja,tanpa harus pedulikan ibu,pedulikan orang yang kehilangan,dan tanpa pedulikan orang yang tak peduli pada kami..Tapi tidak.Saya tidak bisa melakukannya,karena ibu tak pernah mengajarkan hal itu kepada saya.

Ini dompet dan uang 100 ribu milik nyonya.Maafkan saya nyonya.

Nasihat ibu tentang kejujuran,tentang kelurusan hidup.

NYonya munghujani wajahnya dengan airmata.bercermin pada kehidupan ibu dari remaja pencuri dompetnya.

Tidak ada komentar: