~Kesenian adalah Keluhuran Hati ~

~Tuhanku...Aku ingin menghibur dari dhibur...Aku ingin mengasihi dari dkasihi...Mencintai dari dcintai...Kerna dengan memberi aku menerima...Dengan memaafkan aku dmaafkan...Dengan cinta aku bangkit kembali & Dengan cinta aku hidup abadi...Dan bermulalah bicara untaian kata antara hati dan perasaan...~

Sabtu, 18 Juni 2011

AMARAH, (gila pangkat)

Rasullah Saw bersabda:
“Cinta harta dan pangkt itu membutuhkan sifat munafik di dalam hati, sebagaimana air menumbuhkan sayur-mayur.”

Pangkat itu adalah berupa kemasyhuran dan tersiar luasnya kedudukan seseorang di kalangan umat. Menginginkan menjadi orang yang masyhur atau ternama itu adalah cela. Jadi yang dianggap terpuji oleh agama itu ialah berdiam diri, tidak menonjolkan jasa dengan tujuan supaya memperoleh kedudukan yang tinggi, oleh sebab itu, asalkan seseorang itu sudah bekerja dan berusaha dengan mengikuti jalan yang wajar, sudah cukup. Artinya, kemasyhuran yang dicapai tanpa di usahakan dan seolah-olah dengan takdir Allah Ta’ala sendiri, misalnya seseorang yang termasyhur dalam penyiaran agama-nya maka hal ini tidak tercela sama sekali.mengapa? karena ia sendiri tidak memaksakan diri untuk mencari kemasyhuran.

Hidup didunia ini terkadang ingin masyhur, pangkat, dan kedudukan tinggi,sebab semuanya itu memang merupakan salah satu kelezatan di antara kelezatan dunia yang istimewa.

Dapat dimaklumi, bahwa sesuatu yang dicari,agar memperoleh kemasyhuran dan tersiarlah suara pujian, bentuknya berupa pangkat dan kedudukan.maksudnya, setiap hati umat menaruh perhatian besar kepada segala yang diucapkan atau dilakukan.
Cina kepada pangkat dan kedudukan sangat tercela sekali, sebab memang ini lah yang merupakan asal segala kerusakan. Tetapi harus di ingat, bahwa ketenaran yang tercela itu ialah apabila bena-benar dicari dan tamak untk memperolenya. Adapun kalau kemasyhuran itu merupakan karunia Allah Ta’ala, tanpa diusahakan untuk memperolehnya, maka sama sekali tidak tercela.

Hakikat pangkat
Hakikat pangkat ialah menguasai hati orang lain, supaya tunduk kepada orang yang mempunyai pangkat, menuruti semua kemauannya, lisannya dipergunakan untuk memujinya dan agar bekerja untuk memenuhi hajatnya.
Sebagaimana arti harta ialah memiliki dirham untuk menyampaikan kepada semua tujuan. Demikian pula arti pangkat, yaitu menguasai hati.

Pangkat lebih disukai Karen beberapa hal
Pangkat lebih mudah untuk menguasai harta dari pada dengan harta untuk mencari pangkat.
Pangkat lebih terjaga dari pencuri, orang yang menggasap (meminjam tanpa izin) dan dari hama penyaki.
Pangkat akan bertambah besar dan meluas tanpa paksaan.
Orang yang dikuasai hatinya mengagungkan orang yang berpangkat, ia selalu memuji dan menjaring hati hati orang lain untuk tuanya.

Bahwa pangkat itu artinya ketinggian, kebesaran, dan kemuliaan. Tiga sifat-sifat ketuhanan. Sedangkan sifat ketuhanan itu disukai oleh manusia sebab tabiat. Bahkan, menurut manusia yang paling lejat dari segala sesuatu,karena hal itu untuk suatu rahasiaan yang tersembunyi di dalam munasabah roh kepada urusan-urusan ketuhanan.

Bahkan segala yang wujud ini semuanya sebagai bayangan dari cahaya kekuasaan. Segala yang wujud itu mempunyai derajat mengikuti dan bukan derajat menyertai, karena tidak ada wujud, selain allah yang bisa menyertainya.

Pada dasarnya, semua manusia mengingkan hal diatas. Bahkan setiap manusia ada keinginan untuk berkata,” Akulah Tuhanmu yang tertinggi.” Tetapi hanya Fir’aun yang telah melahirkan ucapan tersebut, sedangkan selain Fir’aun menyembunyikannya.

Akan tetapi, apabila menyendiri didalam wujud itu telah hilang pada manusia, ia menginginkan untuk tidak kehilangan perasaan lebih tinggi dan kekuasaan untuk merampas segala yang wujud ini untuk dipergunakan menurut kemauannya.dan itulah urusan Tuhan.

Namun demikian, manusia terhalang untuk merasa lebih tinggi dan menguasai langit, bintang-bintang, lautan dan gunung-gunung. Maka ia ingin merampas kesemuanya itu dengan ilmu, karena ilmu itu semacam perampasan juga. Sebagaimana orang yang tidak mampu menempatkan atau membuat segala sesuatu yang mengagumkan, ia ingin mengetahui cara menempatkannya. Demikianlah manusia itu ingin mengetahui keanehan-keanehan laut, apa-apa yang di bawah gunung dan menggambarkan agar dapat menguasai benda-benda yang berada di permukaan bumi, barang-barang tambang dan tumbuh-tumbuhan.

Karen itu, manusia ingin pangkatnya meluas dan kehormatannya tersebar sampai kenegara-negara yang ia tahu dengan pasti bahwa ia tidak akan menjejakkan kakinya di Negara-negara yang ia tahu dengan pasti bahwa ia tidak akan menjejakkan kakinya di Negara-negara tersebut dan tidak mengetahui penduduknya. Karena itu semua sesuai dengan sifat-sifat ketuhanan. Dan setiap orang yang pandai, maka sifat itu menguasai dirinya, sedangkan syahwat kebinatangan dirinya menjadi lemah.

Batas Pangkat
Ketahuilah, bahwa pangkat dan harta merupakan sandi atau tiang keduniaan. Pengertian harta ialah memiliki benda-benda yang dapt di gunakan untuk kemanfaatan, sedang pengertian pangkat ialah memiliki kecerungan hati, dari orang banyak dengan maksud supaya mereka suka mengagung-agungkan kedudukannya, mentaati perintahnya. Dengan demikian, orang yang mempunyai pangkat tadi dapat menyalahgunakan sesuai dengan kemauannya untuk mencapai sesuatu yang menjadi cita-cita dan tujuannya.

Hukum kepangkatan sama dengan hukum pemilik harta, sebab semuanya berupa benda kehidupan dunia dan pasti akan lenyap setelah meninggal nanti. Padahal dunia ini adalah ladang akhirat, yakni tempat menanam kebaikan yang akan dibawa keakhirat. Jadi, segala sesuatu yang diciptakan didunia ini boleh digunakan sebagai bekal kepergiannya ke akhira. Cinta pangkat dan harta itu pun sama keadaannya.

Perincian mencari kedudukan dan pangkat agar memperoleh tempat di hati sanubari orang banyak ada tiga macam yang dua dibolehkan sedang yang satu dilarang.

Yang terlarang
Apabila mencari kedudukan agar hati seluruh umat meyakini bahwa ia memiliki suatu sifat yang tidak dimiliki orang lain seperti hal ilmu pengetahuan, kewara’an atau keturunan. Menonjol-nonjolkan keturunan sayid, kyai atau sultan, atau menunjukkan ia seorang alim atau seorang intelek. Atau ia menunjuk dirinya sebagai ahli ibadah dan sangat takwa kepada Allah. Padahal yang sebenarnya tidaklah demikkian. Inilah yang di haramkan, sebab jelas merupakan kedustaan, pengelabuhan dan penipuan, baik dengan ucapan atau dengan tindakan dan perbuatan.

Yang dibolehkan
Seseorang yang menghendaki kedudukan dengan suatu sifat yang sederhananya ia memang bersifat demikian, ( memang ahli ) seperti halnya Nabi Yusuf as. Yang mengucapkan permohonannya, sebagaimana yang tersirat dalam Al-Qur’an:
“Jadikanlah aku bendaharawan negara ( mesir ); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi pengetahuan.” ( Yusuf: 5 )

Meminta supaya ditutupi cela yang dimiliki ataupun salah satu kemasyiatan yang dilakukannya dengan harapan agar orang itu mengetahuinya. Sehingga dengan demikian, kedudukannya tidak tergoncang karena cela atau perbuatan maksiatnya tadi. Hal yang demikian ini pun dibolehkan, sebab menutupi rahasia dan melindungi kehormatan atau menjaga diri dari keburukan-keburukan adalah mubah, yakni boleh saja dilakukan. Menodai kehormatan diri tidak boleh sama sekali, seperti seorang mengetahui belum dengan jelas tentang orang yang hendak disuruhnya bahwa ia peminum arak dan tidak memberitahukan seorang wara’. Jika ia berkata, “saya ini seorang wara’.” Maka ucapannnya itu merupakan pengelabuhan, sedang tidak memberitahukan bahwa ia peminum arak tidaklah mengharuskan peyakinan pewa’raannya, tetapi hanyalah mencegah untuk diketahui bahwa ia peminum.

Termasuk golongan yang terlarang lagi ialah memperbagus salat dimuka orang lain, dengan maksud supaya orang meyakini kebaikan amalnya dalam setiap salat. Hal yang demikian ini merupakan riya’ ( pamer ), juga sebagai pengelabuhan. Sebab, dengan perbuatan semacam ini akan terbayang dihati orang lain bahwa ia adalah orang yang sangat ikhlas dan amat khusuk dalam ibadahnya. Padahal sebenarnya hanya pamer belaka dengan maksud yang tidak baik.

Bagaimana orang semacam ini dapat dimasukkan dalam golongan orang-orang yang berikhlas hati?

Oleh sebab itu, mencari kemasyuran dengan cara sebagaimana di atas adalah haram.
Kedua hal tersebut tanpa ada perbedaan sama sekali. Bagaimana seseorang tidak boleh mengambil milik harta orang lain dengan jalan pengelabuhan, baik yang berhubungan dengan kehormatan dan lain-lain, juga tidak boleh mengetahui hatinya dengan jalan perbuatan dosa dan penipuan.

Cara mengobati jiwa dari ambisi dan gila pangkat
Pangkat adalah kesempurnaan dugaan, maka kamu telah tahu bahwa jalan mengobati jiwa adalah dengan cara mengendalikan hati dari gila pangkat tersebut.karena kamu tahu, apabila semua ahli bumi ini bersujud kepada kamu misalnya, hal itu akan kekal kecuali pada waktu yang dekat tidak adaa orang yang sujud dan tidak ada orang yang di sujudi.
Bagaimanakah kamu rela meninggalkan kerajaan yang kekal dan pangkat yang lama serta luas disisi Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya, padahal pangkat kamu hina dan sempit di sisi sekelompok orang-orang tolol yang tidak dapat memberi manfaat, bahkan memberi kemelaratan kepadamu. Mereka tidak mampu mematikan, menghidupkan, membangkitkan, memberi rejeki, dan menunda ajalmu.

Padahal kamu memerlukan sedikit untuk menjaga dirimu dari penganiayaan dan permusuhan serta dari hal-hal yang mengganggu keselamatan dan kelapangan yang kamu perlukan untuk menegakkan agamamu. Oleh karena itu tuntutanmu terhadap kadar ini dibolehkan dengan syarat:
Harus rela dengan kadar yang sangat diperlukan, sebagaimana harta.
Pangkat itu tidak kamu peroleh dengan memamerkan amal-amal ibadah. Sebab yang demikian itu haram.
Pangkat itu tidak diperoleh dengan jalan menipu,
Memiliki pangkat dengan perysaratan tersebut, dan kamu merasa cukup pada kadar untuk sekedar menolak bahaya, maka semoga kamu selamat.

Hanya saja kamu lebih mengkhawatirkan pangkat dari pada harta. Karena sedikit pangkat bisa memperbanyak harta. Pangkat itu lebih lezat dari pada harta. Itulah sebabnya, agama kabanyakan tidak selamat, kecuali bagi orang yang menyembunyikan pangkatnya, tidak di ketahui serta tidak dikenal.

Tidak ada komentar: